Jumat, 22 Juni 2012

Suara Umat Katolik DKI Diperebutkan


JAKARTA, KOMPAS.com - Umat Katolik diimbau untuk memilih kandidat calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan melihat rekam jejak para kandidat selama ini dan bukannya berdasarkan suku atau pun agama.

Itulah pesan yang disampaikan sebagian besar  kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI saat melakukan dialog publik bersama Keuskupan Agung Jakarta di Gereja Katedral, Sabtu (19/5/2012).

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Joko Widodo misalnya. Dia meminta masyarakat lebih memilih pemimpin yang transparan dan profesional.

"Jangan lihat dia Katolik atau tidak, Jawa atau bukan. Tapi lihat rekam jejaknya. Pemimpin yang transparan, profesional harus di atas suku, agama, dan ras," kata Ahok.

Hidayat Nur Wahid, calon gubernur DKI yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga turut meminta dukungan umat Katolik. Dia menganalogikan kampanye Pilkada DKI ini layaknya berjualan kecap.

"Semuanya bilang dia nomor satu, seperti jualan kecap. Nggak ada yang nomor dua. Maka dari itu, profesionalisme seorang pemimpin harus nomor satu," kata Hidayat.

Hidayat menuturkan, kendati partainya bernapaskan Islam, tetapi sinergi antara umat Islam dan Katolik sudah terjalin sejak lama. Hidayat mencontohkan peristiwa banjir besar yang melanda Jakarta pada tahun 2002.

"Saat itu, banyak gereja yang memberikan bantuannya melalui PKS. Jadi, pastinya saya harapkan dukungan warga Jakarta yang di dalamnya pasti ada teman-teman umat Katolik," papar Hidayat.

Sementara itu, Biem Benyamin, calon wagub DKI dari jalur independen, juga menyuarakan pendapat serupa. Menurutnya, perbedaan itu indah. "Maka dari itu, saya tidak hanya harapkan dukungan tapi juga doa," ucap Biem yang berpasangan dengan Faisal Basri.

Nono Sampono, calon wagub DKI yang berpasangan dengan Alex Noerdin tak mau banyak berbicara. Ia menuturkan masyarakat bisa menilai selama ini bagaimana ia menjalin hubungan dengan berbagai elemen masyarakat termasuk umat Katolik.

"Sudah 22 tahun saya menjadi Ketua Alumni SMA Xaverius di Ambon. Latar belakang saya itu bisa dilihat bagaiman saya berinteraksi dengan teman-teman. Bagi saya satu suara berarti, apalagi umat Katolik banyak," kata mantan Komandan Paspampres ini.

Hendardji Soepandji, calon Gubernur DKI dari jalur independen, juga sama-sama berusaha merebut simpati puluhan umat Katolik yang hadir dalam dialog tersebut. "Saya sangat mengharapkan dukungannya karena seluruh bangsa Indonesia adalah saudara kandung saya sendiri," tandasnya.

Adapun, usai ditetapkan sebagai calon gubernur dan wakil gubernur DKI yang resmi, para kandidat sebenarnya harus menjalani masa tenang sebelum kampanye dilakukan.

Pada masa tenang ini, para kandidat tidak boleh mengumpulkan massa pemilih, mengajak untuk memilih, menjelek-jelekkan kandidat lain, ataupun memaparkan visi dan misinya. Namun, batasan pelarangan kampanye ini masih tidak jelas sehingga para kandidat masih melakukan aktivitas seperti biasa.

ARTIKEL TERKAIT :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar